VIVA – Menteri Luar Negeri Retno Marsudi tawaran pemerintah Indonesia untuk membantu situasi di negara bagian Rakhine, Myanmar, agar tidak mengalami situasi terburuk. Selain itu Indonesia juga siap bantu pemulangan pengungsi Rohingya ke kampung halaman mereka di Rakhine.

Sejak Agustus 2017 lalu, lebih dari 600 ribu etnis Muslim Rohingya menyelamatkan diri dari Rakhine ke Bangladesh karena diduga mengalami kekerasan dari militer Myanmar. Saat ini, etnis Rohingya tersebut mengungsi ke Bangladesh dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Retno mengatakan, saat Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT Organisasi Kerja Sama Islam (KTT OKI) di Istanbul, Turki, pekan lalu, ia telah bertemu dengan menteri negara Bangladesh. Saat itu dibahas mengenai proses repatriasi atau pemulangan kembali pengungsi Rohingya dari Bangladesh ke tempat tinggal mereka di Rakhine.

"Sekitar tiga minggu lalu Myanmar dan Bangladesh telah menandatangani pengaturan tentang repatriasi. Saat bertemu dengan Menteri Bangladesh saya sampaikan harapan agar implementasi dapat dilakukan sesuai dengan harapan," kata Retno di Wisma Antara, Jakarta Pusat, Senin 18 Desember 2017.

Dari pertemuan disebutkan bahwa antara Bangladesh dan Myanmar telah mencapai tahap akhir untuk membentuk joint working group atau kelompok kerja bersama yang akan mengawasi pengaturan pemulangan tersebut.

"Sekali lagi sebagai negara tetangga dan sesama anggota ASEAN, Indonesia dan Myanmar memiliki hubungan yang baik. Indonesia mengkritisi situasi yang terjadi tapi pada saat yang sama, kami menawarkan apa pun yang kami bisa bagi Myanmar," ujar Retno.

Selain itu, ia juga menegaskan bahwa Indonesia siap bekerja sama dengan Myanmar dalam membangun kembali Rakhine sesuai dengan prinsip inklusivitas. Inklusif berarti akan melibatkan semua orang tanpa memandang apa pun etnis mereka.

"Dengan pembangunan inklusif itu berarti kita mengupayakan perdamaian berkelanjutan di Rakhine," ujar mantan Duta Besar Indonesia untuk Belanda itu. (ren)

Selengkapnya VIVA News